Siluet Hujan

Gadis itu meneguk cappucinonya lalu diletakkan gelas itu di meja. Keningnya berkerut dengan kepala sedikit miring ketika melihat lawan duduknya menggerak-gerakkan telunjuknya di depan bibirnya. Gadis segera memundurkan badannya dan menoleh ke samping untuk bayangannya lewat cermin di seberang mejanya. Sesaat kemudian diambilnya tissue dan perlahan mengusap bibirnya. Ada bekas whipped cream di tisu itu. Senyumnya merekah saat menatap pemuda di depannya.
“Kebiasaan.” Ucap pemuda itu. Sang gadis memamerkan deretan giginya yang rapi.
“Trus …” lanjut sang pemuda.
“Apanya yang terus?” tanya gadis itu.
“ Hemmm… Kamu dan Boni.”
“ Enggak tahu.”
“Kamu sayang sama dia?”
“ Enggak tahu. Kami terlalu sering bersama. Tumbuh juga bareng. Rasanya aneh.”
“ Apa yang aneh? Tinggal sayang atau tak. Tinggalkan ato tetap bersama. Apa masalahnya?”
“ Mamanya ga suka ma papaku, Bi. “
“ Mamanya?? Bukannya udah meninggal ya.. So dimana masalahnya. Adik ma ayahnya baik kan.”
 “ Iyaaa… adiknya ga tahu kalo aku ma kakaknya deket. Tak ada yang pernah tahu tentang kami.”
“ Hubungan kotak?? Lagi??”
Gadis itu menghela nafas, “ Something like that.”
“ Ga capek?”
“Sangat.” Gadis itu meraih gelasnya dan membuang muka ke arah pintu keluar.
“ Kalian tu mempersulit hal yang mudah. Ya atau tidak… “
“Hujan, Bi. Kamu suka hujan kan.” potong  gadis itu.
Sang pemuda berhenti bicara dan  ikut menatap ke arah pintu keluar. Sesaat keduanya larut dalam diam.
“ Siapa?”
Pemuda itu menoleh menatap sumber bicara. Keningnya sedikit berkerut mempertanyakan pertanyaan tadi.
“ Siluet wajah yang kamu rindukan. Gadis yang datang pada hujanmu.”
Sang pemuda hanya tertawa kecil mendengar ucapan gadis itu. ditatapnya lagi hujan.
“ Come on, Obi. Kamu ga pernah cerita tentang dia. Siapaa?”
“ Dia istimewa.”
Gadis itu tertegun mendengar jawaban itu. “Lebih istimewa daripada aku?”
“Mungkin.” Jawab sang pemuda meraih cangkir espressonya. Keduanya kembali larut dalam diam.
                                                                ---------000---------

“Menurutmu aku sayang Boni?”  
Sang pemuda menoleh ke samping. Sumber suara tengah duduk bersandar di sampingnya. Mesin mobil telah mati. Tapi tangannya masih memegang kemudi mobil. Sebuah kebiasaan yang tak berubah.
“ Kamu yang punya hati. Kenapa tanya aku?”
“Ahhh…”
“ Kalian sama-sama single kan sekarang?”
“ Iya. “ Keduanya lagi-lagi terdiam.
“Udah malem. Aku masuk dulu.” Suara sang gadis memecah keheningan. Pemuda itu tersenyum dan menoleh.
“ Terima kasih traktiran yaa. Besok kita jalan-jalan lagi, jajan-jajan lagi. Okey.”
“ Lusa aku balik ke Aussie. “
“ Haruskah? Tak bisakah tetap disini?”
“ Tak ada yang menahanku disini, Ran.”
Gadis itu menatap pemuda disampingnya lekat, ”siluet itu ada di Aussie ya?”
Pemuda itu diam dan membuang muka ke arah depan. Tangannya semakin erat menggenggam stir.
“ Oke. Aku masuk dulu ya. Good night, Obi Mahesa. Byu byu.” Ucap sang gadis sambil membuka pintu mobil.
Pemuda itu tetap diam dan mengikuti gerakan tubuh sang gadis lewat matanya. Dibukanya kaca jendela ketika gadis itu mendekati pagar. Dia membalas lambaian tangan dan memperhatikan tubuh itu menghilang ke dalam.

Sang pemuda melepas tangannya dari kemudi. Dibukanya laci dashboard dan jari-jarinya mencari sesuatu. Dikeluarkannya sebuah kotak kecil dari laci dan dibuka, sebuah cincin. Diambilnya cincin itu,ditatapnya lekat benda mungil itu, ” aku selalu sayang kamu. Semua pusaran waktuku nyaris habis kepadamu. Jika tidak untuk apa aku tetap bertahan di sampingmu. Berharap suatu waktu kau akan menoleh kepadaku dan menyadari perasaanku untukmu. Menyandarkan kepalamu di bahuku, menggenggam erat tanganku sepenuhnya, hanya aku hingga waktu berakhir. Seandainya kamu menahanku pergi, aku tetap ada di sini.  Karena siluet hujanku itu kamu, Kiran Hapsari. Selalu bermuara ke kamu.”


                                                                --------000-------

Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran