About My Decision

October 10, 2014


Bahwa apa yang terjadi bukanlah suatu kebetulan. Semua sudah dituliskan dan kita hanya menjalaninya. Jika pada suatu masa kita berbelok, Tuhan akan memberitahu. Bahwa yang terjadi bukanlah kesia-siaan. Tak ada kebetulan.


Ini masih tentang 16 Juniku. Sebait episode yang melelahkan. Kau bosan membacanya? Sama. Aku juga jemu pada kisahku yang ini. Satu tahun berlalu dan kupikir hidup telah kembali seperti semula. Jalan-jalan ke jakarta, berburu buku, nonton, melakukan apa yang kumau.

Tetapi salah satu penopang langkahku tak berpikir demikian.

“Ada yang engkau lupakan, Nona!” Kaki kiri atau yang kusebut Kiki mulai berontak. Seiring kegiatan yang semakin bertambah, sakit yang ada pada dirinya menguat. Latihan-latihan yang kulakukan tak jua mengeluarkan hasil. Semakin lama Kiki semakin melemah.

Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali berjalan tanpa rasa sakit. Berapa lama waktu yang kubutuhkan sebelum mengeluarkan tongkat lipat. Berapa waktu tercepat dalam menempuh lima meter perjalanan.  Jika berjalan tanpa tongkat, berapa kali aku harus berhenti karena merasa lelah atau sekedar mengurangi kesakitan? Jangankan melompat atau berlari, berjalan tegap tanpa terlihat seperti pinguin pun tak tahu apakah pernah kulakukan.

Aku kembali teringat pada masa beberapa bulan usai kecelakaan. Kontrol kesekian kali di dokter pertamaku. Operasi divoniskan, mengganti tulangku dengan prosthesis atau tulang buatan. Dari hasil ronsen, column femur atau tulang leher pahaku patah. Bagian bonggol terbelah dua dan hanya menyisakan sedikit bagian yang tersambung, sedangkan bagian leher sudah habis terabsorbsi. Efeknya kakiku jadi tak sama panjang. Rasa sakit yang tak hilang sejak siuman dari operasi diduga berasal dari ini.

Bingung dengan istilah column femur, bonggol atau apalah itu? Googling sendirii ya! :p

Sungguh suatu dilema besar! Dulu tubuhku pernah disayat. Pen dimasukkan ke dalam tangan dan kakiku agar tulang tak bergeser dan menyambung dengan sempurna. Tak apa, suatu hari benda itu akan dilepas dari tubuhku. Tapi berbeda dengan kasus column femur. Tulangnya diganti dengan buatan. Selamanya!

Saat itu keluarga setuju untuk operasi. Tetapi sayang dua kali rencana itu batal karena puasa kurang dan bulanan. Selanjutnya seorang kawan mengenalkan pengobatan tradisional. Setelah melihat ronsenku, beliau menyarankan tetap operasi mengingat usiaku yang muda. Ia menerangkan pula plus minus operasi ataupun pengobatan versinya. Aku yang selalu percaya dengan pertanda, memutuskan berobat padanya. Aku terima resikonya.

Seiring waktu yang berjalan, aku menuju kesembuhan. Hingga akhirnya lepas tongkat dan bersenang-senang. Saat itulah sakit mulai menjadi. Hingga pada titik aku tak bisa jalan cepat atau tak bisa lama tanpa tongkat. Padahal masih banyak yang ingin kuraih. Bekerja dengan bebas, menikah, menggendong bayiku sendiri, dan yang lainnya.

Berada di Jakarta menemani ponakan, terasa menyesakkan. Dulu saat ponakan pertama aku bisa bebas membantu momong. Naik turun tangga atau bermain perang-perangan. Jauh berbeda dengan ponakan kedua. Menggendong tak bisa lama, gerak pun tak bebas. Terbesit jika aku punya keluarga sendiri. Akankah serepot ini? Di tengah melakukan sesuatu harus terhenti karena sakit. Aku tak mau seperti itu.

Setelah diskusi dengan keluarga, kuberanikan diri kontrol dokter. Total ada empat dokter yang kutemui, hasilnya tiga orang menyatakan op. Satu dokter meminta untuk berpikir masak, terus berdoa. Yang kupunya hanya Allah. Pada-Nya aku bertanya. Diskusi dengan keluarga pun dimulai. Intinya semua menyarankan operasi. Hanya satu orang yang meminta menunda.

Aku lebih sering mencari info di dua grup tulang yang kuikuti. Sehati dan THR (Total Hip Replacement). Suatu hari aku memberi komentar di postingan kawan Sehati. Banyak yang kami bicarakan hingga dia berkata, “ini ikhtiar untuk sembuh, Mbak. Hasil akhir serahkan pada Allah.” 

Di lain waktu aku membaca postingan di grup THR. Dia benar-benar menggambarkan aku. Keraguannya untuk melakukan operasi. Semua yang berkomentar memintanya untuk operasi. Tetapi ada satu komen yang menarik perhatianku.

Dia berkata itu pilihan pribadi. Yang bisa menentukan baik atau buruk adalah dirimu  sendiri. Kami di grup hanya memberi support dan berbagi pengalaman. Kita tak pernah tahu sampai kapan tubuh kita bertahan. Sakit macam apa yang bisa ditahan. Semua ada resiko masing-masing. Tetapi pilihannya untuk operasi adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah ia lakukan.

Aku lelah menyimpan bom waktu. Terlebih melihat kondisi tulangku yang mengenaskan. Aku ingin berhenti berpikir tentang tulang saat ini. Ingin berbagi cerita bahagia yang lain. Tak hanya sekedar tanya tentang bagaimana kakimu?

Tetapi ketakutan membayangi. Akankah ini pilihan benar? Setelah op aku akan mulai dari awal lagi. Menekuk, berjalan dengan alat bantu serta mengikuti aturan-aturan yang terdengar ribet. Belum lagi jika terjadi efek dari dalam tubuh. Semisal infeksi atau apapun itu. Aku galau, dilema, dan takut. Disisi lain lain, keberhasilan kawan menggoda mengakhiri sakit ini.

“Untuk kualitas hidup yang lebih baik, Mbak,” ucapnya.

Pada akhirnya Tuhan menuntunku bertemu dokter pilihanku. Tanpa babibu langsung sebuah janji operasi dipersiapkan.


“Perbaiki kakimu sebelum menikah,” pesannya saat membaca keraguanku. Akhirnya aku pasrah. Cepat atau lambat kemungkinan operasi terjadi. Aku tak tahu apa yang terjadi esok. Tapi aku butuh hidupku yang sekarang. Satu hal yang pasti ia tak akan memberi cobaan di luar kemampuan umat-Nya. Resahku hilang seiring waktu mendekat hari H. Akhirnya aku datang untuk melakukan operasi ganti sendi. Ini ikhtiarku untuk sehat, sisanya aku serahkan pada Allah.







bipolar amp
Sesudah di operasi (dok pribadi)

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

kumpulan-emak-blogger

Flickr Images