My Fabulous April

Mei sudah berjalan cepat dan aku masih berbicara tentang April. Hehe… banyak hal istimewa yang terjadi di Aprilku. Tak salahkan bila aku menyebutnya Fabulous April.


Dimulai dengan secara resmi keluarnya ijin dari Ketua Suku (Ayah) untuk jalan-jalan. Alhamdulillah. Bisa bayangkan sendiri rasanya terkungkung dalam rumah selama hampir setahun. Sejak Bulan Juli 2013,episode kecelakaanku , hingga April 2014, baru kali ini aku boleh keluar main ke tempat yang kumau. Selama ini tempat yang datangi hanya praktek dokter dan laboratorium untuk ronsen.


Rasanya benar-benar menakjubkan ketika Raksasa Beruang membawaku keliling kota. Aku persis orang udik yang baru kali ini ke kota. Banyak yang berubah. Terutama daerah di sekitarku. Toko A hilang berganti toko B. Dulu ada lapangan sekarang berubah menjadi ruko. Dahsyat!


Merasakan kembali terpaan angin membelai jilbab dan wajahku sangat menenangkan. Tapi setiap melihat motor menyalip dari samping atau muncul dari depan, jantungku seakan berhenti. Aku otomatis berteriak. Takut. Bahkan tak jarang aku meminta motor melaju lebih lambat, padahal kecepatannya tak pernah lebih dari 20. Trauma itu masih ada, masih sangat besar. Dzikir tak pernah lepas dari mulutku. Aku tak mau jatuh lagi.


Meskipun aku belum boleh mengendarai motor sendiri, Raksasa Beruang mematuhi semua permintaanku. Membuat aku semakin setia berada di boncengannya dan berharap dia segera pulang agar aku bisa jalan-jalan. Hehe… . Maklumlah sejauh ini baru Raksasa Beruang yang mendapat ijin dari Ayah untuk mengajak pergi. Mungkin hanya dia yang berani juga karena aku masih ditemani dengan kruk tersayangku.


Hal lain yang menyenangkan adalah ketika aku mendapat ijin untuk lepas kruk. Alhamdulillah, aku bisa belajar berjalan. Ketika kakiku pertama menapak tanpa kruk, satu langkah aku lakukan, aku menangis. Betapa banyak nikmat yang telah aku dustakan selama ini. Hal sepele yang tak kuingat bagaimana caranya kini harus kuulangi. Belajar melangkah seperti bayi.


Satu dua langkah terlampau dengan baik. Hingga tak terasa satu meter telah aku lewati. Keringat dingin mengucur dengan sukses di dahi. Tapi kakiku masih belum sanggup melangkah terlalu jauh, krukku pun kembali mendampingi. Selanjutnya setiap hari aku terus berlatih berjalan. Sekarang untuk aktifitas di rumah, aku sudah bisa lakukan tanpa tongkat. Hanya jika aku merasa lelah dan sakit, tongkat kakek-kakek menemaniku. Otot kakiku belum sepenuhnya kuat.


Patah tulang sesuatu yang jauh dari bayanganku. Tapi banyak hikmah yang aku dapatkan dari kecelakaan ini. Aku sangat bersyukur tak kehilangan semangatku. Ada banyak orang disekitarku yang mengingatkan bahkan memaksaku. Aku nikmati semua proses itu. Ketika aku marah, benci, terpuruk, bangkit, dan kini bersyukur. Aku tahu mungkin kondisiku tak bisa seperti dulu tapi tak mungkin tak ada yang bermanfaat. Aku bahkan menemukan dunia baru, dunia tulis menulis. Bergabung di KBM menjadi silent reader, mencuri ilmu terkadang memberanikan diri posting. Tak banyak, bisa dihitung jari malah. Berkat ilmu itu, sebuah karyaku lolos lomba dan ikut dibukukan oleh Divapress. Alhamdulillah.


Aku sadar masih banyak yang harus aku lewati. Ada beberapa operasi yang menungguku. Setidaknya operasi pelepasan pen di tangan dan kakiku. Aku akan melewati itu dengan semangat. Yakin bahwa semua yang terjadi ada untuk sebuah alasan. Satu kejadian menjadi perantara untuk kejadian yang lain. Ending cerita Allah selalu berakhir baik, jika saat ini belum baik berarti masih saatnya bersabar. Tak ada yang sia-sia.





Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran