Semua Akan Ada Waktunya

Pernah pada suatu waktu aku berpikir Tuhan tak adil. Dilahirkan sebagai anak kedua dalam keluarga, ajaibnya wajahku berbeda dengan kedua saudara perempuanku. Aku duplikat wajah mama sementara kakak adikku seperti kembar. Aku terasa asing di keluarga ini. terlebih mendengar celoteh sekitar. Kok enggak mirip? *asah penggaris.

Menjadi anak kedua, berarti mewarisi bekas kakak. buku pelajaran, baju, dan beberapa hal lain yang khas diturunkan kakak ke adik. Selain mendapat ‘warisan’, memiliki kakak cantik dan pintar sangat sulit. Setiap saat selalu siap untuk dibandingkan. Kakaknya selalu juara kelas sedangkan aku tak pernah menyentuh angka 3 besar. Lagi-lagi suara sumbang berkata, “Beda ya ama kakaknya. Kalau kakaknya … .” *asah cutter.

Hal tersulit adalah ketika Ayah memutuskan menikah lagi. Aku akan memiliki ibu tiri! Sedangkan Mama belum sampai setahun berbaring di dalam tanah. Jiwa remaja yang baru beberapa bulan berseragam  abu putih bergolak. Hidup ini tak adil! Kemarin Tuhan mengambil mamaku, sekarang  aku harus berbagi ayah dengan orang lain.

Aku remaja yang labil rajin menumpahkan airmata. Sering merasa lelah menangis, aku pun tertidur. Ada beberapa orang dewasa yang memberi wejangan. Tetapi aku tak pernah lelah bertanya pada Tuhan. Kenapa?

Ada banyak kenapa terlontar. Ada banyak marah serta kecewa yang keluar. Seseorang pernah menasehatiku, “Waktu akan memperbaiki semua.” Aku mencibir mendengarnya. Nyatanya waktulah yang menenangkan diriku. Ya, akhirnya aku berdamai dengan diriku sendiri.

Usia yang bertambah merubah pola pikir. Berbagai peristiwa yang terjadi membuatku mampu mencerna nasehat-nasehat yang pernah diberikan.

Dimulai dari kehadiran ibu baru. Pada akhirnya aku terbiasa. Ada peran istri yang tak bisa digantikan sang anak. Ayah butuh teman bicara dan tak semua masalah bisa didiskusikan bersama. Tanpa Mama aku diajarkan untuk mandiri. Setidaknya sekarang aku bisa masak nasi tanpa hangus :D hal-hal yang dulu tak pernah kukerjakan saat Mama ada.

Dilahirkan dengan wajah tiruan Bunda justru membuatku istimewa. Setiap kali saudaraku merindukan Mama, cukup pandang wajahku. Bahkan  kadang bukan namaku yang dipanggil, tetapi nama ibuku. Yup kami mirip bahkan tahi lalat di pipi pun letaknya sama :D

Dan tentang perbandingan, semua orang pasti mengalaminya. Tetapi saat mendengar kakak memujiku, iri di masa lampau pun sirna. Yang membuatku berbeda dengan saudaraku adalah ketekunan. Yup, dia sangat rajin belajar setiap hari. Sedangkan aku sibuk dengan komik atau novel, belajar dengan sistem SKS, dan hasilnya lumayan masih masuk rangking sepuluh besar. Sekolahku pun termasuk sekolah favorit.

“Apapun yang kau lakukan, tak akan pernah memuaskan semua orang. Koin memiliki dua sisi dan gambarnya selalu berbeda.”

Sebuah nasehat yang kudengar dari pakdeku. Orang akan selalu berbicara. Ada pro dan kontra. Berhentilah selalu mendengar mereka. Ada kalanya kita tutup telinga dan mata. Tatap lurus ke depan. Berhenti mendongak karena rasanya melelahkan. Berhenti menunduk atau kau akan  terantuk.


Syukuri apa yang ada di genggamanmu, nikmati! Rencana Tuhan selalu terbaik, tak ada yang sia-sia, jadi nikmat mana yang engkau dustakan? Akan ada waktu untuk semua. Setiap luka ada obat dan setiap tanya ada jawab. Bersabar, bersyukur, bertahan, dan berusahalah.



Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran