Tentang Kamu Tuan W

Aku bersandar di tembok sebuah minimarket. Menanti memang selalu menjemukan. Pria di dalam bilik ATM itu tak jua menyelesaikan aktivitasnya. Beberapa motor memasuki halaman parkir.  Saat salah satu pengendara itu melepas helm, aku tertegun. Dia!


Pria itu turun dari motor. Mata kami bertemu. Keningnya berkerut seakan mengingat sesuatu. Mulutnya lalu membuka seakan hendak berkata sesuatu. Pintu ATM terbuka. Aku langsung memasuki bilik. Pria itu melanjutkan langkah ke dalam minimarket. Kepalanya sempat menoleh ke bilik ATM yang terletak di depan minimarket.


Aku mengetuk-ngetuk meja pertanda tak sabar. Woro sahabatku masih berbincang-bincang dengan anggota yang lain. Berkenalan. Aku sudah bosan.


Beberapa senior memasuki ruang kelas. Molor tiga puluh menit dari yang dijanjikan. Setelah berdoa, prakata tentang kegiatan pecinta alam pun dimulai. Aku mencoba memperhatikan penjelasan dan mencatat beberapa hal yang kupikir penting. Tujuannya sih agar dikira serius oleh senior.


Masuk sesi perkenalan. Pembawa acara memanggil nama anggota beserta jabatannya. Selanjutnya senior yang dipanggil akan berbicara sedikit tentang dirinya. Para pengurus utama memperkenalkan dirinya lebih dulu. Kemudian pria itu masuk. Aku terpana. Aku merasakan dia istimewa. Masih kuingat jelas perkenalannya. Lebih singkat dari kawan yang lain, tapi mampu mencuri perhatian.


Tuan W, itu kode rahasiaku dan kawan-kawan saat berbincang tentangnya. Sejak awal, aku sudah merasa dia berbeda. Mungkin karena fisiknya yang mirip Adam SO7, bassis grup band favoritku. Putih, agak gendut, berambut ikal, berjenggot tipis, dan berdagu panjang. Gugut istilah Jawanya. Otaknya encer bahkan dia juga rajin salat. Sempurna versiku saat berseragam putih abu-abu.


Dia yang membuatku selalu berdoa agar hujan turun. Dengan begitu lapangan besar becek dan olahraga dipindah ke lapangan kecil, di samping kelas Tuan W. Aku bahkan rela memutar jauh saat ke kamar mandi hanya untuk (lagi-lagi) melewati kelasnya. Mata tak beranjak dari pintu, setiap kelas Tuan W selesai berolahraga. Aku berharap bisa melihat sosoknya. Walau hanya sekilas.


Tuan W lah alasan terbesarku tetap mengikuti kegiatan pecinta alam. Diklat alam yang berat sempat membuatku ingin menyerah. Tapi saat melihat senyumnya, energi ini kembali terisi. Bahkan aku rajin berlatih panjat dinding, karena dia berpendapat aku lebih bagus di RC dibanding hiking.


Waktu berjalan cepat. Hubungan kami tak maju atau mundur. Ada kala dia begitu manis padaku. Tapi di lain waktu dia bersikap acuh. Terutama saat bersama teman-temannya. Pria yang satu tingkat diatasku, akhirnya mengikat hati pada seorang wanita. Teman satu organisasi. Tuan W menunggu cukup lama untuk berada di hati gadisnya. Aku hanya tahu itu. aku bisa merasakannya. Saat mereka berbincang, kala sang gadis masih terikat dengan cerita yang lain.


Bunyi mesin mengeluarkan uang, mengembalikan memoriku ke masa kini. Aku menoleh kea rah minimarket. Pria itu tengah di kasir membayar belanjaannya. Beberapa susu formula untuk balita.


Jantungku berdegup kencang. Kupastikan Tuan W meninggalkan minimarket sebelum akhirnya aku keluar. Sembilan tahun berlalu nyaris tak ada yang berubah. Hanya tubuh yang semakin melekaki dan wajah yang lebih tegas. Semakin memperlihatkan ketampanan yang ada.


Tentang rasa ternyata masih sama dengan kadar yang berbeda. Tetapi pria itu masih 
sanggup membuatku menghindar. Setidaknya kali ini tak ada airmata. Tak seperti beberapa bulan lalu saat tanpa sengaja kutemukan akun facebooknya. Beberapa foto pernikahan dan keluarga kecil yang bahagia memenuhi beranda. Masih dengan wanita yang sama.


Tak salah kan Tuan, jika aku pernah menyimpan rasa itu padamu. Setia perlu kutambah dalam daftar kelebihanmu.







Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran