Yang Pertama Darinya

Kado selalu istimewa buatku. Setiap kado pasti memiliki cerita tersendiri. Entah tentang pengirimnya atau  isi kado itu sendiri. Alhamdulillah, aku termasuk sering dapat kado dari orang-orang di sekitarku. Ada yang membuat senang, haru bahkan sedih.

Diantara semua kado, ada satu yang menurutku special. Kado pertama dari abang beruang. Benda ini diberi saat masa-masa promosi (masa awal aku dekat dengan dia). Ini penampakan kadonya


Waktu itu aku masih bed rest setelah kecelakaan yang kualami. Rasa bosan mendera. Buku-buku, koran, tabloid yang ada sudah kulahap habis. Setiap kali menengok beranda facebook bersliweran quote dari Abang Tere Liye. Kebanyakan diambil dari Daun yang jatuh tak pernah membenci angin dan kau, aku, dan sepucuk angpau merah. Penasaran pun menghampiri. Ingin tahu isi bukunya. Dari quote yang tersebar sih sepertinya keren.

Tapi masalahnya adalah aku tak bisa kemana-mana. Belum dapat ijin jalan-jalan dari orang tua. Selain itu ribet juga kalau musti jalan-jalan pake dua kruk. Terlebih toko bukunya naik turun tangga tanpa elevator atau lift. Membayangkankannya saja sudah  lelah. Hahaa … .  Parahnya lagi di jaman canggih ini, aku belum mendaftar internet banking. Jadi kalau mau beli onlen susah buat transfer.

Sudah banyak orang yang kumintain bantuan. Malu juga kalau  minta tolong orang itu-itu aja. Satu-satunya yang belum dimintain tolong ya si Abang Beruang. Akhirnya terlontarlah keinginan meminta bantuan transfer. Kalau  minta tolong ke tobuk, ga mungkin banget. Pria berkacamata itu enggak doyan berada diantara ribuan buku yang berjajar.

“Novel alay!” 
Itu adalah  reaksi yang kuterima saat aku bercerita ingin membeli novel. Emosi banget saat mendengar pendapat makhluk satu itu. Kalau tak mau menolong tolak saja, tak perlu menghina dina.

“Kenapa sih harus beli novel alay? Cari aja e-booknya di internet,” lanjutnya. Benar-benar bikin nyesel sudah  meminta bantuan orang itu. Terlebih saat kutanya, dia tak pernah sekalipun membaca novel pengarang Indonesia. Alasannya dari judulnya sudah tersirat kealayannya. Paling ceritanya itu-itu saja.

Satu-satunya novel yang pernah ia baca adalah Harry Potter. Itupun tak tuntas. Dia memang tak hobi membaca. Akhirnya chat di wacap kuakhiri, daripada sakit hati membaca komentarnya. Dan itu terakhir kali saya minta tolong dalam dunia perbukuan. Terbesit niat dalam hati.nanti kalau sudah diijinkan jalan-jalan sendiri, aku akan menemuimu wahai tobuk. Tunggu aku bukunya Tere Liye.

Malamnya hape berbunyi. Notifikasi wacap muncul. Sebuah foto dikirim oleh si Abang Beruang. Taraaa… foto buku Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah. Rasanya ada yang terbang gitu di hati. Hihii… Saat kutanya kenapa beli novel alay, jawabnya ada orang yang merengek pingin baca buku itu. Daripada orang itu nangis ya dibeli saja.

si Daun Jatuh nyusul beberapa minggu kemudian. Habis katanya


Kupikir buku itu akan sampai di tanganku lewat jasa pengiriman. Kami berada di kota yang berbeda. Dia di kota gudeg sementara aku kota nasi liwet. But kejutan bertambah ketika makhluk itu muncul di rumahku. Semingguan setelah barang dibeli.

Rasanya aneh melihat seseorang yang terakhir kali kulihat saat masih berseragam abu putih. Tapi begitulah takdir, selalu ada jalan ceritanya sendiri. Sejak hari itu, setiap dia ada di Solo, pasti akan menyempatkan waktu berjumpa denganku. Sejak hari itu pula, kami bukan lagi sekedar teman sekolah.

Kado itu menjadi istimewa karena berupa benda yang sedang kudamba. Datang di saat yang kubutuhkan dan tak mudah untuk didapatkan. Lewat perdebatan  pada awalnya dan berakhir dengan manis. Sederhana tapi dia mau meluangkan waktu berkunjung ke tempat yang membosankan untuknya. Manis menurutku :D Terimakasih Abang Beruang.

Postingan ini untuk mengikuti give away Mak Pungky



Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran