LDR

Pertama kali mengenal istilah ini dari sebuah film Raditya Dika. LDR alias Long Distance Relationship a.k.a Hubungan Jarak Jauh. Sejak dulu saya skeptis dengan hubungan macam ini. Tidak percaya bahwa hubungan macam ini akan berjalan dengan langgeng. Walaupun pada kenyataan saya mendapati beberapa LDR yang berhasil. Entah ketika pacaran ataupun menikah tetapi pada akhirnya mereka memilih untuk menjalani CDR atau Close Distance Relationship alias hubungan jarak pendek (kayak korslet listrik yak :D)

Saya selalu menjauh dengan hubungan macam ini. Membuang waktu buat saya. Saya selalu mengumpamakan bahwa LDR itu mirip dengan minum minuman yang ada racunnya. Kita tahu minuman itu beracun tetapi tetap saja diminum. Berharap tubuh memiliki antibodi baik sehingga tidak akan terpengaruh dengan racun itu. Atau berharap akan ada obat penawar sebelum racun itu bereaksi pada tubuh. Konyol buat saya. Penuh dengan ketidakpastian. Kita tak pernah tahu dengan siapa dia bergaul, seperti apa bahkan apa yang sedang dilakukannya sekarang. Harus selalu percaya. Dan kepercayaan itu seperti obat pahit yang harus diminum setiap hari agar kamu tak mati. Kamu tak pernah tahu apakah dengan meminum obat itu kamu bisa tetap hidup lama. Tapi yang jelas kamu akan mati jika tak meminum itu.

Sayangnya akhirnya saya terlibat pada hubungan konyol ini. LDR pertama tak berhasil. Mungkin saya terlalu skeptis dan hubungan itu berlalu tanpa kejelasan. Hingga akhirnya saya tiba pada hubungan kedua saya. Sejak awal saya sudah bilang bahwa saya tak percaya pada LDR. Entah kenapa dia bisa menyakinkan saya hingga akhirnya sampai hari ini hubungan kami masih terjalin dengan baik. Mungkin karena jarak kota yang tak terlalu jauh. Hanya sekitar 1 jam jika ditempuh dengan motor atau sekitar 45 menit jika ditempuh dengan kereta. Mungkin karena dia bukan orang baru di hidup saya. Sejak kecil kami sudah berteman. Mungkin karena komunikasi kami sejak dulu baik walaupun putus nyambung putus nyambung. Mungkin dan mungkin... .

Pertemanan kami biasa, selayaknya tetangga, teman SD ataupun teman SMP. Ketika usia dewasa kami mulai sibuk dengan dunia masing-masing. Sempat kehilangan komunikasi tuk berapa lama dengannya, saat dia meneruskan studinya di luar kota. Pertemuan dimulai lagi melalui sosmed Facebook. Bertemu dengan dia lagi di sosmed itu bersama teman-teman lain. Tetap tak ada yang spesial. Dia tetangga saya yang bekerja di luar kota sedangkan saya masih bertahan di kota kelahiran tercinta.

Terkadang dalam malam insomnia saya, dia yang menjadi kawan chat saya. Selalu seperti itu. Terkadang sangat sering kami chat tapi berbulan-bulan diam tanpa komunikasi. Bercerita tentang masa kecil, pekerjaan bahkan terkadang menyerempet ke hubungan kita masing-masing. Hingga akhirnya entah bagaimana kami bisa sampai di titik ini. Melewati beberapa bulan bersamanya dengan status bukan lagi sebagai tetangga. Saya tak merasa menjalani LDR karena dia ada buat saya. Dia juga sering nyata berada di samping saya.

Sering kami tertawa bersama. Menertawakan hubungan kami. Berapa orang yang harus kami lewati. Berapa jarak yang harus kami tempuh dan akhirnya kembali pada dia. Tetangga yang hanya berjarak beberapa rumah. Teman kecil yang akhirnya menjadi teman special. Tapi itulah waktu, kekuasaan Allah. Apapun itu namanya, tak ada yang bisa menghindar dari takdirNya. Kami berdua tengah menikmati apa yang sedang terjadi diantara kami. Tak lagi hanya berbicara tentang masa lalu tapi juga tentang masa depan. Untuk ke sekian kali saya kembalikan semua pada waktu. Biar tinta Allah yang menentukan guratan akhir cerita kami.

Saya merasa nyaman bersama dia. Dengan segala kecerewetan dan kegalakannya, dia membangkitkan semangat baru. Konsentrasi untuk sembuh. Allah memang selalu memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Mungkin saat ini dia yang saya butuhkan :)  
 

Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran