Just A Shadow

Aku merasa menemukan cermin dan bayanganku ada pada dirimu
Biarkan rasa ini menjelma seperti apa adanya, seperti yang seharusnya
Ada saatnya aku benar-benar mengerti
Dan, waktu tidak pernah berhenti
Ternyata, kita tidak pernah berlari. Hanya berdiri menatap dalam mimpi
Dari segalanya, ketiadaan tetap pada akhirnya
Satu dari semua kesempatan menjadi awal dari segalanya
Jejak-jejak yang membawaku pada keajaiban
Karena aku percaya, tak pernah ada kata salah untuk cinta 
-Coming Home- 

Membaca paragraf itu dan aku kembali mengingat pada suatu masa. Dimana saat itu aku merasa aku menemukan cermin dan melihat bayanganku pada dia. Dia yang hanya aku kenal melalui media sosial. Dia yang banyak menghabiskan waktuku tuk berbincang di chat. Dia yang membuat dering wacapku selalu berbunyi. Dia yang entah kenapa bisa membuatku bercerita banyak hal, tak ada habisnya bahan pembicaraan. Aku tak mengenalnya, tak pernah melihat wajahnya atau mengenal kehidupan nyatanya. Tapi kami bisa berbagi waktu bersama, bermimpi untuk bertemu suatu saat nanti, dan saat itu rasanya begitu ajaib. Menemukan seorang asing yang bisa dipercaya, membuat tertawa, dan nyaman. Pemikiran yang konyol, naif , dan menyedihkan.

Kenapa aku bercerita lagi tentang bayangan ini? Ini adalah kali kedua aku menulis tentang dia. Sebelumnya dia muncul di Dumay. Membaca kata bayangan dan tiba-tiba teringat dia, hanya itu. Sambil tersenyum pahit mengenang kebodohan kecil itu.

Dia mirip aku, caranya mengurai kata, narsisnya, humornya, dan pikiran- pikirannya bisa kutebak. Itu sebabnya aku berani menyebutnya bayangan. 
"Terkadang, kita bisa jatuh cinta dengan bayangan kita sendiri tanpa disadari loh.. Saat kita berkaca, kita sering tersenyum memandang bayangan kita kan?" itu yang dikatakan seseorang ketika kami berbincang tentang dia.
"Yaa bayangan di cermin hanya akan jadi bayangan di cermin kan.Tak akan tersentuh." jawabku singkat.
Itulah sifat bayangan. Mengikuti di belakang, tak pernah berada di depan atau di samping, tak akan hadir di dunia nyata, dan hilang ditelan kegelapan.
Lalu apa gunanya bayangan? Di film horor biasanya ketika melihat cermin dan tak ada bayangan sosok tersebut, berarti dia hantu.Ya itu guna bayangan, membedakan manusia dan hantu. Mengingatkan bahwa manusia makhluk sempurna, memunyai akal, budi, dan rasa.

Sekarang aku dan orang yang ku sebut sebagai bayanganku sudah tak berbincang lagi. Kami menjadi orang asing yang seakan tak pernah saling mengenal. Tapi memang begitu kan. Bayangan tak pernah bicara. Kehidupan kami pun berjalan dengan baik. Kami telah terbiasa dan membiasakan diri berjalan tanpa kehadiran masing-masing.
Dia dengan cerita barunya, meniti mimpinya tanpa aku menjadi bagian dari cerita. Tak penting pula adanya aku atau tidak dalam cerita dia. Entah aku masih menjadi bagian dari cerita atau hanya menjadi bahan olokan dan tertawaan. Aku sudah tak peduli dan tak mau tahu tepatnya.

Pusaran waktu kami telah menjauh lalu mempertemukan dan mendekatkan kami dengan jiwa-jiwa yang lain. Jiwa-jiwa yang tepat untuk kami saat ini. Aku sendiri tengah mengarungi lautan dengan perahuku yang baru. Dan, aku tengah menikmati perjalanan ini. Kali ini bukan perahu kertas yang membawa melaju menuju laut. Seperti yang selalu kukatakan pada Nemo, "Pada akhirnya bukan perahu kertas yang bermuara ke laut."

Aku selalu percaya tak ada kebetulan di dunia ini. Selalu ada alasan untuk semua yang terjadi. Kenapa saat itu aku harus melewati jalan itu, memakai baju warna itu, termasuk sebuah pertemuan. Mungkin alasan Tuhan mempertemukan kami adalah untuk saling menghibur. Seperti yang pernah dia ucapkan padaku bahwa dia adalah mainan. Ya, itu benar. Dia adalah mainanku begitu pula sebaliknya aku adalah mainannya. Kami bertemu ketika kondisi kami terpuruk. Saat itu yang dibutuhkan adalah penghiburan. Sharing, gurauan, dan saling menguatkan. Ya itu yang terjadi dan memang seharusnya terjadi. Aku pernah berkata bahwa apa yang dia lakukan tak akan merubah apapun bahwa ini hanya dunia maya tempat orang melepaskan penat dari dunia nyata. Semua hanya untuk senang-senang. Tapi ternyata ada bagian dari diriku yang terbawa arus. Terbuai dalam dunia maya itu tanpa aku sadari. Hingga akhirnya ketika tiba-tiba semua terasa absurd dan lelah berada dalam dunia semu. Sesuatu yang pasti dan nyata menggoda, membuat aku mempertanyakan keberadaanku. Aku kembali melirik dunia nyata.

Entah siapa yang pergi dan ditinggalkan. Tak penting. Karena kami telah memilih jalan kami masing-masing. Akankah dia tetap menjadi bayangan atau muncul sebagai tokoh nyata pun sudah tak perlu lagi. Bahkan apakah aku menjadi salah satu tokoh dalam ceritanya pun itu sangat tidak penting.Dia sudah menjadi bagian dari lintasan cerita yang kusebut kenangan. Berbaur bersama nama-nama serta kejadian-kejadian yang lain. Meninggalkan jejak di lembar cerita. Jejak yang mungkin terhapus dengan mudah atau justru kuat menguat. Terserahlah... Whatever.

Untuk sesaat aku kembali mengingat dia. Tentang seseorang yang aku anggap sebagai bayanganku. Aku melepas dia dari kata bayangan. Bayanganku adalah aku. Jika nanti aku bercermin yang ada adalah aku. Tak mau lagi menjadikan seseorang sebagai bayangan. Semirip apapun dia hanya menjadi ekor tanpa pernah nyata.

Kenyataan selalu terasa lebih indah walaupun pahit. :)

Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran