AYAHKU BUKAN AYAHMU

Ada berbagai hal terjadi dalam kehidupan. Bahagia, susah ataupun memalukan. Kali ini aku akan menceritakan salah satu peristiwa memalukan yang kualami saat kelas 3 SMA. Waktu itu kelasku mengadakan study tour ke Jogja.

Bis kembali ke kota asal, Solo, sekitar jam tujuh malam. Saat tiba di sekolah suasana jalan sangat gelap. Hanya ada lampu penerangan dari sebuah warung makan depan sekolah. Setelah turun dari bis aku langsung menuju wartel, menelepon ayah minta dijemput.

Selesai menelepon aku bergabung dengan teman-teman yang duduk lesehan di depan warung makan. Beberapa teman sama seperti aku, menunggu jemputan. Yang lain sengaja pulang terakhir menanti kawan-kawan –rata-rata anak perempuan yang menunggu- dijemput. Ada beberapa yang sudah pulang duluan.
Kami bernyanyi bersama. Mulai dari lagu Indonesia, Inggris atau lagu ciptaan kawan. Saat asyik bercengkerama, tiba-tiba Metta,  sahabatku berteriak, “Rima sudah dijemput.”

Aku langsung bangkit dan berpamitan dengan yang lain.

“Dadaa … dadaa …,” ucapku sambil melambaikan tangan ala miss universe. Dua tas plastik besar berisi baju kotor dan oleh-oleh ikut bergoyang saat aku melambai.Kawan-kawan mengangguk sambil meneruskan bernyanyi.

Sebetulnya aku heran, kenapa ayah cepat sekali menjemput. Sepertinya belum ada lima menit lalu aku menelepon. Tapi masa aku tak percaya Metta, dia kan sudah sering bertemu keluargaku.

Aku bergaya manis menunggu motor ayah berhenti. Suasana gelap membuatku ekstra memperhatikan ayah. Tangan kiri kuangkat dan melambai seperti menghentikan kendaraan umum. Memberi kode ayah, aku di situ.

Saat motor mendekat aku kaget, helmnya putih. Sejak kapan ayah punya helm putih? Semakin seksama kuamati siluet yang perlahan mendekat ke arahku. Kok wajahnya tua? Ayahku kan belum setua itu dan aku baru sadar dia bukan ayahku tetapi ayah Puspita. Perlahan aku mundur dan mendekati Puspita berkata ayahnya sudah datang.

Saat itulah tiba-tiba Metta berteriak lagi, “Bukan ding. Itu ayahnya Puspita.” Meledaklah tawa seluruh teman-teman. Aku cuma cemberut menahan malu. Jari telunjuk kutempelkan mulut agar mereka berhenti tertawa. Tapi tetap saja semuanya terbahak. Tak berapa lama ayahku datang, tanpa pamit aku langsung bonceng beliau.

Kupikir kisah itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya tidak. Hari Senin saat upacara, barisan belakang sibuk kasak kusuk, ada yang tertawa cekikikan. Berlanjut hingga jam pertama dimulai. Guru Jermanku penasaran kenapa muridnya kasak kusuk dan tertawa-tawa. Beliau pun bertanya, seorang teman tergendut di kelas menjawab.   

“Kemarin Rima salah ngakuin bapak orang, Pak. Ternyata bapaknya Puspita bukan Rima. Padahal udah dada … dada…, ” ucapnya sambil menirukan gayaku melambai ala miss universe. Semua teman dan Pak Guru tergelak. Wajahku memerah malu.

”Gara-gara dia, Pak yang salah beri info,” ucapku sambil menunjuk Metta, teman sebangkuku. Metta ikut terbahak-bahak.

“Sayang ya kemarin Bapak pulang duluan. Coba bisa lihat langsung kejadiannya.” Tawa pun kembali menggelegar.


Sampai hari ini kisah itu masih terekam di otak teman-teman sekelasku. Saat reuni pasti ada yang mengulang cerita tersebut. Membuat aku tak terlupakan :D




Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran