Saya tahu berjilbab adalah perintah Allah. Saya paham jika hal tersebut tertulis dengan jelas di Al Qur'an. Saya baca kok. Tetapi, saya belum siap untuk berjilbab. Lebih baik menjilbabi hati dulu. Kalau udah beres, baru deh pakai jilbab. Yah, paling enggak kalau sudah nikah deh jilbabannya. Posisi udah aman.
Itu adalah alasan klise yang saya sampaikan ketika beberapa teman menasehati saya untuk menutup aurat. Mereka enggak secara frontal sih nyuruhnya, tetapi sering banget berkata jikalau, seandainya kamu pakai jilbab, pasti kelihatan lebih oke. Lebih keren. Lebih cantik dan berbagai pujian yang lain.
Ngomongin soal film selalu membuatku semangat. Soalnya aku termasuk pecinta film. Tak ada genre tertentu sih. Aku bisa menikmati segala jenis film kok. Mulai yang lokal, interlokal, komedi atau horor. Eh tapi, ada satu sih yang aku enggak begitu suka. Film action yang asli action doang. Sebel aja liat darah dan orang tonjok-tonjokkan. Hehe...
Nah, gara-gara GA Mbak Evrina nih, aku jadi mengingat-ingat film yang berkesan. Ada beberapa sih sebetulnya. Tapi pilihanku jatuh di sebuah film Korea. Tokoh utamanya nenek dan cucunya. Termasuk film jadul dan aku lupa judulnya. *LOL Syukurlah ada Mbah Google yang bisa menjawab segala pertanyaan. Gampang untuk menelusuri judul film. Jauh lebih gampang dibanding menelusuri isi hatimu *eeaaa... Dan film ini adalah ... The Way Home (Jiburo).
Seingatku pertama lihat di sebuah televisi swasta yang berlogo ikan terbang. Di beberapa review ditulis tahun 2002. Karena mau membahas film itu, enggak afdol dong kalau enggak lihat lagi. Tengoklah ke youtube dan film ini dengan suksesnya membuat airmataku jatuh (lagi) . Tiga kali lihat, tiga kali dibuat mewek. Emang ya film Korea jago membuai perasaan.
![]() |
| gambar dari google yah |
Dikisahkan Sang Woo (7 tahun) yang terpaksa dititipkan ke neneknya di desa. Menjadi single parent tanpa pekerjaan bukan hal mudah bagi sang ibu. Karenanya Sang Woo harus tinggal dengan sang nenek sampai dia mendapat pekerjaan. Dimulailah petualangan Sang Woo si anak kota yang harus hidup di desa dengan seorang nenek yang bisu, bongkok dan tak bisa membaca menulis.
Sangwoo digambarkan sebagai anak kota yang egois, tak sopan, pelit, dan gengsian. Stereotype khas orang kotalah. Saat melihat perlakuan Sangwoo ke neneknya, rasanya ingin menjitaknya. Anak lelaki itu harus diajari sopan santun. Dia tidak mau bersalaman, berkata buruk, dan tidak menghargai sang nenek. Gameboy yang menjadi dunianya. Setiap hari dia sibuk bermain gadget itu. Hingga akhirnya baterai gameboynya habis. Eh, dia malah ngamuk ke neneknya. Apa salah sang nenek coba? Ngerti gameboy aja enggak.
![]() |
| Dalam perjalanan menuju rumah nenek |
“Kau mana kemana?” tanya Sangwoo. Dia lalu melangkah menuju rumah dan sang nenek mengikuti dari belakang.
![]() |
| Sangwoo ngambek |
![]() |
| potongan rambut ala nenek |
![]() |
| Si anak kota jatuh cinta |
![]() |
Walau kelihatannya tak perduli, diam diam Sangwoo perhatian juga. Jemuran nenek diangkat biar enggak basah
|
Masih banyak hal menarik dari film ini. Banyak pesan yang terselip. Salah satunya tentang pengorbanan orang tua. Sebetulnya apa yang dilakukan orang tua tuh pingin membahagiakan anaknya. Mungkin jadi enggak sreg buat kita karena perbedaan pemahaman. Tapi kita harus tetap menghargai apa yang dilakukan orang tua. Setidaknya berterimakasih. Kalau lihat fisik Sang Nenek, tingkah Sangwoo, hiks... Tega nian Sangwoo. Pokoknya film ini recomended banget deh! Yuk, dilihat.
*semua gambar diambil dari Youtube.*
"Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?"
“Ajining diri dumunung ana ing lathi. Ajining raga ana ing busana.”
![]() |
| Si Kotak ikutan liburan ke pantai |
![]() |
| Yang ini pas tahun baruan di Jombang tahun 2012 |
![]() |
| Muka lelah saat liburan di Kebun teh Bandung. Niat awal ke Tangkuban Perahu tapi ada demo waktu itu |
![]() |
| Nampak belakang tetep oke kan |
Wanita dituntut untuk cantik. Setidaknya berpenampilan rapi dan menarik. Sebagai seorang wanita, pasti aku juga ingin penampilan oke. Bagian paling sulit dari kecantikan menurutku adalah merawat. Yes, merawat. Musti telaten dan terkadang menyakitkan. Aku punya pengalaman tentang kecantikan yang menyakitkan.
Memiliki wajah putih itu mimpiku. Apalagi bermunculan iklan-iklan yang menjanjikan putih dalam waktu singkat. Sebagai remaja yang labil, aku tergoda dong. Sebuah produk pun dibeli. Awalnya sih oke, tapi dasarnya aku yang labil. Saat ada iklan pemutih yang lain, aku pun tergoda. Apalagi harga lebih murah, cocok di kantong anak sekolah.
Tapiii ... kali ini zonk aku dapat. Pelembab itu enggak cocok di mukaku. Jerawat muncul semena-mena. Balik lagi ke pelembab lama, hasilnya sama. Jerawat tetap muncul. Dan sejak saat itu mukaku enggak cocok dengan produk pemutih. Wajahku juga tidak bisa bersih total. Setidaknya ada satu jerawat kecil menghias.
Seorang teman menyarankan perawatan wajah. Menurutnya wajahku butuh facial. Aku sih nurut saja. Pergilah kami ke sebuah salon kecantikan. Walaah.. Saat masuk pertama kali ternyata antrinya banyak. Setelah menunggu beberapa waktu, giliran pun tiba. Dan ini yang bagian horor. Dua jerawat di wajah disuntik. Rasanya sakiit... Benar ya kalau beauty is pain.
27 Juli 2015, hari pertama masuk sekolah. Di setiap medsos tersebar gambar anak berseragam rapi meski sedikit kedodoran, dengan aksesoris sekolah lengkap. Bagi mommy and daddy yang baru memasukkan anaknya ke playgroup, TK atau SD, lucu melihat polah anak mereka.
ada yang difoto nyengir memamerkan gigi ompongnya. Rambut dikuncir dua, tas yang lebih besar daripada yang punya, dan selanjutnya.
Buat yang masuk SMP atau SMA sih agak gimana ya, enggak lucu aja sih buat aku, dikuncir lima, bawa tas karung goni atau atribut yang bikin heboh sekampung. Iya sekampung, biasanya si ortu sampai tanya-tanya tetangga sebelah gara-gara barang bawaan yang enggak dimengerti. Curhat dikit mengenang ospekku dahulu.
Aku ini termasuk banci foto. Dimana ada kesempatan pasti foto. Saat ngumpul bareng temen, sedang dalam perjalanan atau melakukan sesuatu. Enggak ada yang fotoin ya selfie lah. Secara ya banyak jalan menuju Roma. Jaman udah canggih juga :D
Habis itu sebarin deh ke sosmed. Tanpa edit kalo fotonya dah keren. Intinya sih enggak ingin melewatkan suatu moment. Yah, tambah pamer-pamer dikit lah, hehee... . Meski memiliki banyak foto di hampir setiap acara hidupku, ada satu foto yang jadi obsesiku. Foto bareng The Ridwan.

















