Resolusi Yang Tertinggal

Tahun baru tinggal beberapa jam lagi nih. Sudah siap dengan resolusi tahun ini? Kalau aku mah ngelanjutin resolusi yang belum tercapai aja. Aku orangnya biarkan mengalir seperti air. Mengikuti apa yang terjadi. Ya biar dibilang eksis, ngikut bikin resolusi deh. Tapi ya gitu ada resolusi yang entah dari tahun berapa belum tercapai. Ihiks...



Resolusi 1: Umroh (Ngetrip) sama adik

Dibuat awal tahun 2013. Saat itu kita tiba-tiba pingin banget pergi berdua. Travelling yang agak jauhan. Membolang berdua. Backpakeran.
Ada dua tempat tujuan. Karimunjawa dan Umroh. Nah, mulailah kita nabung bareng. Harapannya sebelum berubah status jadi istri sudah bisa terlaksana. Etapi namanya harapan kadang tak sesuai kenyataan.

Pertengahan 2013 tulangku patah. Batal dong yah. Duitnya juga ikut kepake buat pengobatan. Butuh setahunan buat recovery. Aku juga musti cari kerjaan baru karena tempat lama enggak mau kalau aku kelamaan ijin sakit.
Juni 2015 kemarin Adik menikah dan alhamdulillah sekarang sedang mengandung baby pertama. Rencana berubah total dong ya. Kalau dulu saat single pergi mah tinggal pergi. Paling ijin ayah. Tapi sekarang birokrasinya lebih sulit. Apalagi akan ada debay. Belum lagi kalau aku juga nikah. So rencananya ditunda sampai waktu tak terhingga.

Pernah sih ikut lomba menulis berhadiah tabungan umroh.Tapi sayangnya enggak lolos. Yah belum jodoh. Sekarang simpenin dulu uangnya biar jika tiba waktunya langsung berangkat. Selalu terucap di doaku.Semoga ada kesempatan ya.

Resolusi Dua: NIKAH

Aduh, baper sih kalo ngomongin resolusi kedua ini. Enggak tahu kapan harapan ini masuk list secara resmi. Sejak kecil aku sudah bermimpi menikah sih. Model pesta, baju juga cowoknya hahaa... Aku memang pengkhayal tingkat tinggi.

Dulu alasan belum menikah karena belum ada calonnya. Tahun 2013 aku dekat dengan seseorang. Hingga hari ini. Tapi kan 2013 adalah masa recovery kecelakaanku. Begitu pula 2014. Akunya yang enggak mau nikah dengan kondisi memakai tongkat dua. Aku enggak mau ngerepotin. Setidaknya bisa lepas tongkat dulu.

Nah, 2015 ini aku insyaAllah sudah bener-bener fit. Tapi menikah enggak murah ya. Walau banyak yang ngomong enggak usah ngejar gengsi, jangan dilama-lamain, dan sebagainya.

Tapi gini ya. Aku pernah baca sebuah tulisan, sembunyikan lamaran sebarkan pernikahan. Jadi pas lamaran enggak usah heboh. Secara banyak hal yang bisa terjadi. Kalau pun gagal enggak malu banget plus enggak capek jawab pertanyaan, KENAPA?

Selain itu menikah kan menyatukan dua keluarga. Nah keluarga kan banyak, bukan hanya keluarga inti. Ada pakde, bude,om, tante. Teman diundang juga dong ya meski perwakilan. Paling enggak temen kantor. Terus tetangga? Masa iya enggak diundang.

Adalagi nih temen-temennya orang tua. Biarpun diambil beberapa orang, tetep saja butuh kertas/pulsa buat ngundang. Butuh dijamu dong ya. Masa diundang tapi dianggurin. Ya paling enggak teh manis kan ya. Trus butuh tempat dong buat ngumpulin. Rumahnya kecil, berarti musti sewa tempat. Dan sebagainya dan sebagainya.

Mungkin ada yang bilang alasan. Nikah enggak seribet itu kok. Baiklah jika tak ada yang diberi tahu. Hanya keluarga inti. Kira-kira akan seperti apa mulut-mulut sekitar bergunjing? Cuekin? Maaf aku enggak bisa seperti itu. Terkadang mulut-mulut itu terlalu kejam.

Harapanku tahun 2016 resolusi tertinggal ini bisa tercapai. Ya kalau enggak bisa dua-duanya, salah satu lah. Aamin...

Resolusi 2016 selesaikan yang tersisa dulu deh. Standart seperti yang lalu. Jadi manusia yang lebih baik dari tahun kemarin. Sehat, sukses, dan happy. Rajin ngeblog, enggak ngikut GA doang. Buku baru yang kece, dan sebagai sebagainya.

Kurangi malas. Tingkatkan ambisi!

Happy New Year ... .

Tulisan ini disertakan dalam giveaway Tinta Perak.




Popular posts from this blog

FACIAL SENDIRI? WHY NOT!

Memasak Ala Single

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran